Seusai Unjuk Rasa Malioboro Menderita

SINGGIH Raharjo pantas dongkol. Upayanya meningkatkan kunjungan wisata ke Malioboro, yang sempat terpuruk sebab pagebluk, jadi berantakan.

Malioboro yang berangkat berdenyut, kembali terseok, akhir minggu lalu. “Gara-garanya demo anarkistis, ” kata Kepala Dinas Pariwisata Wilayah Istimewa Yogyakarta, itu, kemarin.

Dalam kurang pekan terakhir, setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu, jumlah tamu ke destinasi utama itu menyentuh 20 ribu per hari. Tetapi, akhir pekan lalu, terjadi kemerosotan hingga 5. 000-an pengunjung mulai hari.

“Kunjungan ke Malioboro sudah tiba bangkit dengan penerapan protokol kesehatan. Wisatawan mulai percaya diri muncul, tapi demonstrasi anarkistis telah berdampak buruk, ” tambahnya.

Untuk mengembalikan kepercayaan wisatawan, Singgih berjanji akan lebih gencar mempromosikan bahwa Yogyakarta telah aman dan nyaman. “Pada akhir pekan, Bregada Prajurit Keraton Yogyakarta akan ikut berjaga di Malioboro, ” tandas Singgih.

Unjuk rasa menegasikan UU Cipta Kerja juga benar disusupi. Di Riau, Guntur, seorang pekerja alat berat di Kabupaten Siak, ditangkap. Ia menyaru dengan menggunakan jaket almamater Universitas Lancang Kuning. Ia juga diduga merusak mobil polisi.

“Dia mengaku sudah merencanakan aksinya itu bersama 4 rekannya, ” kata Kapolda Irjen Istimewa Setya Imam Effendi.

Di daerah tersebut, polisi juga menangkap 21 remaja yang ikut demonstrasi sambil membawa batu dan minuman keras. Karena di bawah umur, mereka cuma dinasihati. Setelah itu, remaja yang rata-rata berusia 15-16 tahun tersebut dikembalikan kepada orangtua mereka.

Amir Iskandar, 24, juga menjadi penyusup masa unjuk rasa di Palembang, Sumatra Selatan. Ia menjadi salah utama dari dari 65 demonstran yang ditangkap polisi.

“Ia memprovokasi massa. Simpulan bukan mahasiswa, tapi mengenakan jaket almamater, ” kata Kapolrestabes Kombes Anom Setyadji.

Sementara itu, di Kawasan, Polrestabes justru menangkap dua anggota Satpam DPRD Medan. Mereka dituding melempari pengunjuk rasa dari tempat atap gedung DPRD.

“Mereka melakukannya karena sakit hati, ” kata Kasat Reskrim Komisaris Martuasah Tobing. (AT/RK/DW/YP/N-3)