RUBBISH BIN Pastikan Pakai Lab PCR Berstandar Tinggi

BADAN Intelijen Negara (BIN) menjelaskan keakuratan hasil uji swab test atau tes usap yang dilakukan BIN dalam penanganan covid-19.  

BIN menegaskan tingkat keakuratan tes usap ini sudah memenuhi standar protokol laboratorium.

Deputi Vll BIN Wawan Hari Purwanto awalnya menjelaskan soal peran BIN di dalam penanganan korona  di Indonesia.  

Sesuai dengan UU 17/2011 tentang Intelijen Negara, BIN punya fungsi untuk mendeteksi ancaman nasional. Kepala BIN Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan juga memerintahkan kepada seluruh jajaran BIN bergerak membantu pemerintah dalam upaya memutus rantai penyebaran korona.  

“Sesuai dengan UU 17 Tahun 2011 BIN sebagai alat negara yang menyelenggarakan fungsi intelijen dalam negeri dan luar negeri, yaitu penyelidikan, pengamanan dan penggalangan, yang tujuannya adalah mendeteksi, mengidentifikasi, menilai, menganalisis, menafsirkan, dan menyajikan Intelijen dalam rangka memberikan peringatan dini untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan ukuran dan sifat ancaman yang potensial dan nyata terhadap keselamatan lalu eksistensi bangsa dan negara serta peluang yang ada bagi kepentingan dan keamanan nasional, ” kata Wawan dalam keterangan tertulis, Senin (28/9).

Wawan menegaskan, dalam proses swab test, BIN menggunakan Laboratorium PCR yang sudah berstandar Biosafety Degree 2 (BSL-2) bersertifikat Internasional mulailah di Indonesia.  

Wawan juga menegaskan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki BIN punya standar yg tinggi. Para dokter hingga tenaga kesehatan merupakan lulusan terbaik dari universitas ternama di Indonesia oleh kualifikasi biomolekuler.

“Yang kita miliki keseluruhan kompeten dibidangnya, bahkan kita mempunyai beberapa ahli. Mulai dari biomolekuler, bioinformatika dan esai protein, genetika evolusi, diagnostic molekuler, patologi molekuler visologi hewan, hematologic, klinik kimia. Biomedis, imunorserologi, rekayasa tumbuhan, mikrobiologi lingkungan, patologi klinik. Lulusan- lulusan universitas ternama di Indonesia diantaranya ITB, IPB, UI dari S-1 hingga S-3, ” sambung dia.

Bukan hanya itu BIN juga proses kerja sama dengan Lembaga institusi lain untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 seperti UNAIR, UGM, Eijkmen dan lain lain.

Sementara itu, sertifikasi untuk laoraturium, Wanny Basuki menerangkan BIN mempunyai 4 mobil laboraturium dengan fasilitas BSL2 yg didesain berdasarkan standard WHO dan lab EBDC yang merupakan BSL2 yang dibuat dengan tekanan negatif.  

Keempat mobile laboraturium tersebut telah disertifikasi oleh WBHT dan sertifikasinya berstandar internasional.  

Dalam melakukan sertifikasi, WBHT memeriksakan banyak hal, misalnya:

•Interior BSL-2 facility berdasarkan As-built sketching (architectural, interior, MEP, AHU, etc) 

•Spesifikasi material yg digunakan, misalnya: dinding, pintu, lantai dan langit2 

•Inspeksi dri Biosafety Cabinets (BSC) – harus sudah di sertifikasi 

•Inspeksi dari penunjang lainnya, spt eyewash dan helping spaces including finishing, safety repairs and maintanance concerns

•Inspeksi laporan testing and commissioning report

•Review SOP, user manual,   lab safety dan procedure, termsk biosafety plan & emergency response plan & waste management strategy.

“Sebagai tambahan, dari sekian banyak institusi maupun rumah sakit, tidak banyak yang bersertifikat dan salah satunya adalah milik BIN, ” tandasnya.

Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran UI, Budiman Bella menjelaskan hasil swab test BIN yang berbeda hasil swab test di tempat lain.  

Budiman mengungkapkan dalam melakukan uji sampel menggunakan PCR test di RUBBISH BIN, menggunakan ambang batas yang tinggi. Sehingga sensitifitas untuk mengetahui hasil positif atau negatif Covid-19 lebih akurat.

“BIN menerapkan ambang batas standar hasil PCR tes lebih tinggi dibandingkan institusi lain.   nilai CT QPCR atau ambang batas bawah hasil tes PCR pada umumnya adalah 35, tapi BIN mempunyai ambang batas 42 sehingga lebih sensitive, Hal itu untuk mencegah orang tanpa gejala lolos screening process, ” jelasnya.  

Selain itu, menurut Budiman, ada sejumlah faktor lain mengapa hasil swab test berbeda jika melakukan test di tempat yang berbeda. Ia mencotohkan bila seseorang swab test di dua lokasi yang berbeda dengan hari yang berbeda maka kemungkinan tidak kecil hasilnya berbeda pun tak dipungkiri.

“Hasil positif menjadi negatif itu disebabkan sejumlah faktor. RNA/protein yang tersisa (jasad renik virus) sudah sangat sedikit, bahkan mendekati hilang, sehingga tak lagi terdeteksi. Apalagi subjek tanpa gejala klinis dan dites pada hari yang berbeda. OTG/asimptomatik yang mendekati sembuh berpotensi mempunyai fenomena tersebut. Sensitivitas reagen meraih berbeda terutama bagi pasien yg nilai CQ/CTnya, ” terang dia.

Buat diketahui, selama Pandemi Covid-19, RUBBISH BIN telah melakukan test di beberapa daerah seperti Jakarta, Tangerang, Bandung hingga Surabaya. Selama 6 bulan terakhir, sebanyak 85 ribu lebih telah diambil spesiemnnya oleh Healthcare Intelijen BIN. (OL-8)