Noble Academy Bantu Anak Jenius Berkembang

SEMUA anak dilahirkan spesial dan istimewa sebagai makhluk ciptaan Tuhan.. Namun tidak dipungkiri, ada sejumlah anak yang dilahirkan membawa kecerdasan di atas sama sehingga masuk dalam kategori jenius. Kondisi ini disebut gifted- sejak akar kata yang merujuk di pemberian tak ternilai dari Tuhan.

Bagi Joel Zechary Mewengkang (16) anak jenius dengan tingkat kecerdasan IQ 140 ini mengutarakan dirinya seperti mempunyai masalah di sekolah ketika belajar. Kemudian ia mendapat data dari keluarga dan orang tuanya tentang Noble Academy.

Di lembaga tersebut ia dibantu orang tuanya memasukkan tes intelegensia yang hasilnya diketahui memiliki IQ di atas sama. Dari situ, Joel mulai memeriksa, hal ini menjadi penyebab dirinya merasa kurang cocok di madrasah, sebab Joel tidak mengerti teman-temannya dan teman-temannya tak mengerti Joel.

“Perbincangan ini membuat rasa bersalah hamba semakin dalam. Betapa tidak? Begitu banyak dari kita yang tidak pernah bersungguh-sungguh berusaha lebih berpengaruh untuk memahami mereka, ” logat Joel saat disambangi sejumlah wartawan di Noble Academy, Gedung Soho Capital, Jumat (20/11).

Joel yang ditemui sedang belajar dengan gurunya Rudi Silitonga, guru spesialis anak gifted, Rudi mengutarakan Joel anak dengan amat kreatif, remaja yang tak bisa diam serta produktif, Dia mempunyai ide cemerlang dan out of the box.

“Siapa menyangka budak seusia nya telah menghasilkan karya ilmiah yang dituangkan dalam wujud buku. Kini telah menghasilkan enam karya tulis ilmiah. Karya tampang Joel antara lain Effects of Climate Change Science Report, Portopolio ART, Projects, Portopolio Language Arts, Portopolio Psychology, Project 49, ” kata Rudi.

Joel adalah anak gifted yang memiliki kemampuan di tempat rata-rata alias jenius secara pandai dan kreativitas. Namun sayang, di sekolah sebelumnya sering mendapat pesan merah dari guru. Nilai rapornya selalu pas-pasan. Ia tak pernah serius mengerjakan tugas yang diberikan atau tak mau menyelesaikannya. Joel juga memiliki penilaian negatif terhadap guru dan sekolah.

Ia sering mengacaukan mereka untuk nilai-nilainya yang rendah. Menurutnya pelajaran sekolah membosankan serta para guru tak cukup berpendidikan.

Di dalam kesempatan sama, anak jenius lainnya,, Niko (11) mengutarakan persis cocok terjadi kendala komunikasi dan kurangnya pemahaman dirinya dengan teman teman sekolahnya hingga ia dipandu orang tua ke lembaga Noble Academy. Penggemar game online ini menyenangi pelajaran dengan literasi digital dengan menjadi aktivitasnya sehari hari.

Mengucapkan juga:   Indeks Literasi Digital Nasional Masuk Kategori Cukup

“Kekecewaan dan frustasi seringkali terjadi ketika idealisme mereka tidak tercapai. Masa anak-anak gifted mencoba untuk mengutarakan keprihatinan ini ke orang asing, mereka biasanya justeru menerima pandangan dalam bentuk keheranan hingga kekasaran, merasa terisolasi dari teman-temannya serta mungkin juga dari keluarga, ” kata Julie Jurisa- orang gelap dari Niko yang turut mendampingi pada kesempatan tersebut.

Menurut Julie. setiap akhir pekan Niko selalu tekanan karena cemas akan masuk sekolah di jenjang SD. Niko tak bisa mengikuti pelajaran sekolah pelik itu, dan tak cocok secara teman-temannya di sekolah.. Sedangkan muda Niko, Charis kelas IV SD bisa mengikuti pelajaran di madrasah biasa.

Menanggapi anak-anak cerdas yang bertentangan dengan anak-anak di sekolah berpunya ini, psikolog dari Universitas Surabaya (Ubaya) Evy Tjahjono menjelaskan, bujang gifted secara intelektual mereka suka mengikuto teman-temannya namun sulit nyambung sehingga tidak cocok. Tetapi secara sosial dia berada di gabungan itu. Ia menjelaskan anak-anak jenius ini memiliki ketidaksejajaran antara kepandaian mental mereka dengan emosiaonal.

Inilah yang membuat anak-anak gifted seringkali frustasi dengan kehidupan. Mereka sudah bisa memikirkan jauh ke depan tengah orang lain belum memikirkannya. Akan tetapi banyak yang tak memahami dirinya. Sungguh ini suatu kelebihan tidak kekurangan. Anak-anak ini sebuah anugerah (gifted) karena ia punya potensi lebih yang diberikan Tuhan.

“Saya yakin dengan kelebihan yang mereka punya, mereka dapat mengubah dunia. Apakah nanti mereka jadi ahli matematika, kimia, fisika, rancang bangun & lain-lain mereka adalah anak-anak luar biasa di masa datang, ” tegas Evy.

Sementara itu, Inisiator dengan juga Director Noble Academy Jakarta, Nancy Dinar menjelaskan, lembaga pelajaran yang ia dirikan sejak 3 tahun ini memiliki 17 anak, Senada, Nancy juga memaklumi banyaknya keluhan para ibu lainnya yang mempunyai anak cerdas tak mampu sekolah di sekolah biasa. Tempat mengaku memiliki dua anak pandai yang juga tak bisa memasukkan pelajaran di sekolah biasa.

“Akhirnya kami buka lembaga pendidikan Noble Academy. Kurikulumnya terbagi dua yaitu kurikulum nasional indonesia dan kurikulum nasional Amerika, ” ungkap Nancy.

Dia mengutarakan berdasarkan data sekitar 67 persen anak gifted mengalami underachievement atau tidak ditangani dengan baik. Sementara di Indonesia diperkirakan sebanyak 2, 6 juta anak Indonesia yang berpotensi gifted juga mengalami lupa penanganan.

“Meski sekarang banyak orang kata soal underachievement tapi tidak ada sekolah yang bisa menampung itu. Di sinilah kami mengambil andil, ” pungkas Nancy Dinar. (OL-7)