Nelayan itu Masih Melaut

ARU Labok baru mengisi tirta di bak sewaktu mendengar kegemparan dari arah pantai. Ia keluar rumah dan melihat orang-orang  sudah berkerumun. Ia bergegas menghampiri untuk segera tahu  apa yang terjadi. Tampak perahu tua yang ia kenal terikat pada  sebuah halaman. Di belakang buritan perahu tersebut, teronggok kepala ikan marlin manusia besar dengan todaknya yang mencuat dan sisasisa tulang telanjang.

Sambil menahan minuman matanya yang mulai mengembun, ia lekas  meninggalkan kerumunan itu, menuju ke gubuk Dullah yang tak jauh dari bibir pantai selatan pulau.

Lelaki tua itu rupanya sedang tertidur, dan terlihat oleh Aru  Labok kedua tangan Dullah dengan membikin ia akhirnya menangis. Dia lantas keluar dengan menutup kesempatan. Mendorongnya begitu perlahan, sebab tidak ingin membangunkan Dullah.

Aru Labok berangkat ke warung tempat para pemalas biasa mabuk dan bermain judi. Lalu, ia membawa segelas contoh panas dan ubi rebus ke gubuk itu, duduk di sisi Dullah yang terlelap.

Aru Labok medium membaca koran basi yang datang tiga bulan lalu, sewaktu alhasil lelaki tua itu terbangun.

“Minumlah tiruan ini. Tapi mungkin sudah tidak begitu panas. ”
 
Lelaki tua itu menerimanya, dan berkata terima kasih.

“Tampaknya tidurmu pulas sekali. Kau pasti lelah dan belum sempat membersihkan luka-luka di tanganmu itu. ”

“Air laut akan cepat membuatnya kering, ” ujar lelaki tua itu enteng, sementara Aru Labok menyorongkan ubi rebus untuknya.

“Kau perlu tahu barang apa yang telah kutangkap semalam, ” kata lelaki  tua itu sambil mengupas ubinya.

“Ya, aku telah melihatnya. ”

“Akhirnya setelah berhari-hari. Mengagumkan bukan? ”

“Sayang sekali, kau harusnya mengajakku. ”

Lelaki tua itu tersenyum tipis, sebelum menjawab, “Ya, mungkin  kau harusnya tak melewatkannya. Paling tidak untuk terakhir kali. ”

Aru Labok ingin kembali menangis mendengarnya, akan tetapi ia tak ingin lelaki sampai umur itu meledeknya sebagai bocah lemah.

“Istirahatlah, pak tua. Akan kupetikkan kaum tangkai daun  jarak untuk mengobati tanganmu. ” Aru Labok beralih dari duduknya dan mengembalikan koran ke tumpukan lain di tempat rak yang sudah reot ke kiri.

“Tenanglah bocah, ini bukan apa-apa. ”

“Aku tahu. Tapi, kau perlu segera sembuh, agar kita mampu melaut  bersama lagi. ”

“Apa kau yakin? ” tanya lelaki usang itu.

“Tentu saja. ”

“Baiklah. Tapi, sepertinya angin sedang kurang begitu cantik.   Kita mungkin perlu menduduki beberapa hari. ”

“Kau juga perlu mengurus dulu luka-luka di tanganmu, atau kau
hanya akan merepotkanku saja nanti! ”

Lelaki primitif itu tertawa dan memperlihatkan tulang rahangnya yang nyaris menembus kulit pipinya. Aru Labok pun mengucap pamit.

“Oh iya, kalau kau balik ke sini, jangan lupa engkau bawakan koran yang lebih terakhir, ” ujar Dullah, sebelum Aru Labok menyeret pintu.

Aru Labok tak menjawab, hanya mengangkat tangannya dan mengacungkan jempol. Sepanjang jalan Aru Labok mulai menangis.   Dia bahkan tak peduli ketika melewati warung, dan menjadi tontonan orang-orang yang duduk di sana serupa tertawa mengejek. Saat itu Aru Labok  hanya tahu bahwa dia ingin bisa kembali melaut bergandengan Dullah.

Namun, ia tahu betul, ayahnya akan menghajarnya bila sampai itu terjadi. Setahun yang lalu, Aru Labok pertama kali diajak oleh Dullah melaut. Tentu saja, Dullah tidak lekas mengajaknya ketika Aru Labok mengutarakan keinginannya. Perlu berminggu-minggu ia  menunggu Dullah pulang daripada laut, membantu mengikatkan perahu ke  karang, merapikan jala, dan 1 mengantarkan ikan cakalang hasil tangkapannya ke tempat pelelangan, sampai akhirnya Dullah mengajaknya bicara.

“Apa maumu, bocah? ”

“Kau tak usah memanggilku bocah. Engkau harusnya dapat melihat  bahwa badanku jelas lebih kekar dari tubuh rentamu itu. ”

“Baiklah. Apa dengan membuatmu tertarik dengan laut? “

“Aru Labok, kau bisa memanggilku Aru Labok, Pak Tua. ”

“Ya, sungguh, Aru Labok. Aku akui kau tampaknya punya cukup nyali  buat berlayar, anak muda. Tapi, kau perlu tahu, samudra adalah  tempat yang keras, tidak cocok untuk anak-anak muda sekarang  yang melempem. ”

“Tentu saja aku tahu. ”

“Lalu, apa kau sudah meminta permisi orang tuamu? ”

“Aku tidak perlu meminta izin. ”

“Baiklah, aku tak akan bertanggung jawab jika berlaku apaapa denganmu, itu aturannya. Masa besok sore angin dan iklim bagus  untuk berlayar, datanglah serta jangan sampai terlambat, atau awak tidak akan pernah menawarimu teristimewa, Aru Labok. ”

Begitulah bagaimana Aru Labok akhirnya diajak oleh Dullah pergi  melaut. Sejak hari tersebut, tak ada satu hari melaut pun yang tidak  membikin sebal Aru Labok gembira. Sementara Dullah sendiri merasa  kehadiran Aru Labok memberinya keberuntungan. Selama melaut  bergabung Aru Labok, hasil tangkapan ikannya tidak pernah mengecewakan. Bahkan kurang kali, mereka berhasil menangkap  ikan berukuran jumbo.

“Kuakui, kau bocah pengantar keberuntungan! ” ujar Dullah sambil terkekeh sewaktu berhasil menangkap ikan cakalang besar.

“Ayolah Pak Tua, telah kubilang jangan memanggilku bocah. Kau  pasti sekarang menyesal mengapa tak mengajakku sedari dulu. ”

Dullah hanya kembali terkekeh. Aru Labok pula ikut tertawa.   Aru Labok akhirnya bercerita kepada Dullah mengapa ia ingin ikut melaut. Dia ingin kabur dari pertengkaranpertengkaran dengan setiap hari terjadi di rumahnya. Ia tidak tahan setiap keadaan melihat ibunya dipukuli ayahnya. Awut-awutan, ia mulai menyadari bahwa tersebut bukan hanya terjadi pada keluarganya, tetapi ia pun melihat hal serupa di rumahrumah yang asing.

Ia pikir, samudra dapat membawanya melihat dunia yang lebih luas, ketimbang pulau kecil tempat tinggalnya yang penuh dengan siksaan dan kekurangan.

“Kau pasti tahu Pak Tua, tanah kita dipenuhi oleh pemabuk. ”

“Ya, itu terjadi sejak orangorang ganjil itu datang ke pulau kita, memaksa orang-orang kita berhenti melaut, untuk menanam  pala dan cengkih. ”

“Dari mana sebenarnya orangorang asing itu? ”

“Aku tidak pernah terseret dengan mereka. Kurasa negeri mereka juga miskin, sehingga mereka menetapkan jauh-jauh datang kemari. ”

“Apakah kalau kita terus berlayar jauh melupakan pulau ini, kita akan menghadap pulau-pulau miskin lain? ”

“Entahlah. Teristimewa pula perahu kita terlalu kecil untuk bisa sampai ke pulau lain. Kehidupan lain. Kita butuh perahu yang lebih besar. ”

“Apa maksudmu kehidupan lain? Dan kok kau masih saja melaut, Pak Tua? ”

“Lihatlah ke langit suangi, bocah. Selama melaut, aku kerap  membayangkan bintang-bintang di sana layaknya pulaupulau yang mengapung di samudra tanpa batas ini. ”

“Tampaknya bintangbintang itu sangatlah jauh. ”

“Ya, & mungkin, lantaran begitu jauhnya, ketika cahayanya sampai ke sini, kartika itu sendiri sudah mati. ”

“Maksudmu bintangbintang itu memiliki kehidupan seolah-olah kita? ”

“Entahlah. Pikiranku terlalu cupet untuk mengetahuinya! Apalagi aku cuma baca koran basi setiap hari, ” kata lelaki tua itu sambil mengikat jalanya.  

“Tapi, di setiap nelayan sepertiku tahu cerita mengenai bintang-bintang yang dahulu pernah ada, lalu menghilang. ”

Aru Labok cuma menyimak, terkagum dengan omongan lelaki tua di hadapannya itu.

“Barangkali anak-anak muda sepertimu nanti yang bakal menemukan jawabannya, Aru Labok. ”

“Entahlah, Pak Tua. Aku harus jujur padamu, ayahku tidak akan  kerap aku melaut bersamamu. ”

“Ya, hamba sudah tahu. Waktu itu matamu tak bisa membohongiku. ”

“Lalu, kok kau mau mengajakku? ”

“Mungkin karena kau tampak pekerja keras serta tidak cengeng. Tapi, kurasa aku keliru untuk yang terakhir. ”

“Sial, ” ujar Aru Labok, sembari menata kail dan mata pancing, lalu memutar perahunya untuk kembali. Dullah hanya tersenyum.

“Pak Tua, awak tidak bermaksud menyinggungmu, apa engkau pernah  berkeluarga? ”

Dullah diam. Sejurus kemudian ia menjawab, ”Ya, awak pernah menikah dan punya seorang anak lelaki. Seharusnya saat ini dia
seusiamu. ”

Aru Labok tak hendak bertanya lebih tinggi, tetapi Dullah  melanjutkan kalimatnya, ”Ia demam dan meninggal sewaktu saya sedang melaut berhari-hari. Ibunya langsung begitu membenciku
dan tidak pernah kembali. ”

Itulah percakapan final Aru Labok bersama Dullah di atas laut. Dua hari lalu, ia dihajar oleh ayahnya lantaran seseorang memberitahu kepergiannya   bergabung Dullah.

“Kupikir kau sekadar keluyuran dengan teman-teman berandalmu  itu. Ternyata selama ini kau pergi melaut, ” ujar ayah Aru Labok  sambil melecutinya dengan tulang daun kelapa.

“Mau jadi apa kau anak setan? Nelayan? Kau mau seperti si Dullah  menyedihkan yang ditinggal tewas anak dan istrinya yang gila itu,   heh? ” Ia lalu memukuli Aru Labok total. “Biar kapok! Bikin malu karakter tua saja. ”

Aru Labok memang bisa tahan dengan perkataan maupun pukulan-pukulan itu. Tetapi ia tidak tahan ketika melihat ibunya  menangis sambil memohon-mohon kepada ayahnya buat berhenti  memukuli Aru Labok, dengan justru membuat ibunya mendapatkan  perlakuan serupa.

Aru Labok teringat itu selagi kembali ke rumah Dullah. Ia telah  memetikkan beberapa tangkai daun jarak untuk mengobati lelaki  usang tersebut. Sambil berjalan, ia membayangkan tentang perahu  besar yang pernah diceritakan Dullah. Di belakangnya, lautan  menghampar, ombak tak henti menghajar karang dan perahuperahu tua dengan sudah lama karam. (M-2)