Kelompok Demagog dan Matinya Demokrasi

Jackpot hari ini Result SGP 2020 – 2021.

BANYAK cara sebuah tampang muncul ke permukaan. Namun, buku yang satu ini, beberapa hari silam, cukup mengundang perhatian pada jagat media sosial dengan nasib yang agak unik. Ia dibaca Gubernur Anies Baswedan, difoto, serta di-posting agar diketahui khalayak ijmal.

Memalut hitam, buku ini judulnya menjadikan perhatian, How Democracies Die, datang dua tahun lalu, karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, besar profesor ilmu politik dari Universitas Harvard. Isinya cukup serius, tercatat dalam genre literatur perbandingan sejarah dan pemerintahan.

Pesan apa gerangan yang ingin disampaikan Anies Baswedan melalui foto itu? Dia ingin memberi pembenaran pada sikapnya yang longgar terhadap Habib Rizieq Shihab? Apakah dia sedang mengkritik Presiden Joko Widodo? Atau ia sebenarnya menjawab kita semua?

Saya hanya bisa menebak-nebak. Namun, dalam satu hal, kita harus berterima kasih kepada Anies. Buku ini memang sarat secara pesan yang patut direnungkan famili politisi, elite pemerintahan, dan tipu partai politik. Khususnya, dalam situasi zaman ini, ketika demokrasi dalam mana-mana mengalami erosi yang pandai, dari Amerika Serikat, India, Turki, hingga Eropa Timur.

Dalam buku tersebut, salah satu yang paling memikat ialah cerita dan penjelasan tentang kaum demagog, tokoh-tokoh ekstrem dalam luar sistem. Kaum demagog tetap hadir dalam setiap tahap jalan masyarakat. Di zaman Yunani mulia, ia sudah menjadi bahan studi Sokrates, dan Plato.

Namun, di zaman modern, khususnya sejak awal era ke-20, peran mereka mencapai level destruksi yang tak terbayangkan sebelumnya.

Alexander Hamilton, salah satu founding fathers Amerika Serikat, mendefinisikan pelaku demagogi sebagai men with talents for low intrigue, and the little arts of popularity.

Mereka ialah karakter yang pandai kasak-kusuk, pencari popularitas, dengan berbekal teori kosong dengan mengobarkan kebencian. Berbeda dengan orator di alam demokrasi (Churchill, Obama), kaum demagog biasanya mementingkan pancingan, mempertajam perbedaaan, serta cenderung memainkan emosi massa yang paling semoga terbakar, baik dalam soal lingkungan, ras, maupun agama.

Biasanya, dalam demokrasi yang stabil, kaum demagog hanya berada di pinggiran. Suara mereka keras, dengan pendukung fanatik, akan tetapi lebih sebagai fenomena idolatri di luar sistem. Mereka mendapat tepuk tangan atau pemujaan pribadi, tapi bukan kursi kekuasaan.

Masalahnya, dalam periode sejarah tertentu, hal tersebut mampu berbalik sama sekali. Kaum demagog kadang-kadang mendapat angin dan bahkan jadi mencapai puncak pemerintahan. Dari kekuatan yang kecil dan militan, mereka kemudian menjadi pelaku dominan dalam pusat kekuasaan. Setelah itu, mereka menjadi tiran yang destruktif.

Itulah yang terjadi di Jerman (Hitler), Italia (Mussolini), Venuzuela (Chavez), dan banyak negeri lainnya. Di AS, Donald Trump sudah masuk kategori demagog, dan ia juga sudah mengakui pemerintahan selama empat tahun. Untungnya, sistem demokrasi AS jauh bertambah matang dan kuat jika dipadankan sistem yang ada di Jerman pada zaman Weimar.

Apa yang menerbitkan pembalikan itu? Faktor apa dengan memungkinkan mereka menapak tangga kewenangan dan meruntuhkan demokrasi? Jawaban Levitsky dan Ziblatt dalam buku tersebut cukup jelas, memiliki aplikasi umum dan karena itu, perlu direnungkan sebagai bahan pelajaran oleh keluarga pendukung demokrasi, termasuk di daerah kita.

Kuncinya ialah krisis dan respons kaum elite politik, baik pada dunia pemerintahan maupun di golongan yang menguasai parlemen. Di Jerman, misalnya. Setelah Perang Dunia Pertama hingga Depresi Besar di dekade 1930-an, krisis sosial dan ekonomi datang silih berganti.

Reformasi politik Republik Weimar di bawah Presiden Paul von Hindenburg sebenarnya cukup jadi, tetapi di Reichstag (parlemen Jerman), polarisasi menajam, dan koalisi kelompok yang ada tak kunjung menghasilkan kekuatan mayoritas. Situasi ini menghasilkan kebuntuan politik terus-menerus, dan karenanya pemimpin pemerintahan (kanselir) hanya dewasa pendek.

Untuk mengatasi kebuntuan ini, kerabat elite politik, termasuk Von Hindenburg dan Frans von Papen, aktivis aristokrat dan mantan kanselir, mengambil sebuah keputusan penting, sebuah langkah dalam percaturan politik yang saat ini terus menjadi catatan sejarah. Itu mencari jalan pintas, memasukkan tipu ekstrem dan populer dari luar sistem untuk menjadi kanselir pergantian. Tokoh yang mereka pilih yaitu Adolf Hitler.

Bagi kelompok utama di dalam tubuh elite politik Jerman masa itu, tokoh transisi ini yaitu semacam boneka yang sanggup mengatup kelemahan mereka sendiri. Mereka betul yakin, bahwa boneka ini mampu dikendalikan sepenuhnya, seperti yang dianggap Von Papen, sebagaimana dicatat sebab Levitsky dan Ziblatt: “Dalam perut bulan kita pasti akan mendorongnya (Hitler) ke sebuah sudut, mematok dia akan menjerit sendiri…”

Sejarah membuktikan pilihan politik semacam itu tidak hanya keliru, melainkan juga silap secara tragis dengan dampak historis.

Pada buku ini, langkah strategis buat menarik tokoh ekstrem di asing sistem ke dalam koalisi pemerintahan diberi istilah the fateful alliances. Kalau diterjemahkan bebas: aliansi ajal yang menentukan percabangan peristiwa. Koalisi semacam inilah yang menjadi faktor penyebab matinya demokrasi di Jerman dan di banyak negara lainnya pada periode yang berbeda-beda.

Dengan seluruh itu, Levitsky dan Ziblatt menyimpulkan: “In each instance, elites believe the invitation to power would contain the outsider. But their plans backfired. A lethal mix of ambition, fear, and miscalculation conspired to lead them to the same fateful mistake: willingly handing over the keys of power to an autocrat-in-the-making. ”

Maka singkatnya, Levitsky dan Ziblatt tak menekankan pentingnya faktor struktural (kelas ekonomi, misalnya), atau hubungan siasat dan asimetri kekuatan negara-negara Eropa pascaperang, atau faktor impersonal lainnya. Penekanan dalam buku ini ialah pada kualitas kepemimpinan serta pada pilihan-pilihan tindakan kaum elite politik.

Jika kaum elite berhasil membangun kegiatan sama, untuk mengatasi masalah-masalah praktis yang ada, pemerintahan demokratis bakal kuat. Namun, ketika mereka tetap terbelah untuk hal-hal yang fundamental, lalu mencari jalan pintas, apalagi jika mereka mencarinya di kalangan militan, kaum demagog atau famili ekstrem lainnya di luar pola, pintu bagi datangnya prahara bakal terbuka lebar.

Kurang lebih itulah salah satu pesan penting yang ada di buku ini. Kaum elite politik seperti Gubernur Anies Baswedan dan Pak Jusuf Kalla, dua tipu nasional yang selama ini dikenal cukup memberi angin kepada rumpun militan di garis agama, kudu memikirkan secara mendalam pesan sama dengan itu.

Sebenarnya buku ini masih berbicara banyak hal lagi tentang berubahnya partai politik Amerika Serikat, & bagaimana Donald Trump melemahkan dasar demokrasi. Namun, esensi pesan yang ada di dalamnya tetap cocok: tokoh-tokoh yang berada di lapisan kepemimpinan, perlu membangun konsensus pada kalangan mereka sendiri. Tentang apa yang boleh dan tidak bisa dilakukan, dalam menapak tangga tanduk, serta tentang perlunya penegakan balik, norma-norma baku, seperti fair play, mutual trust, dan tolerance.

Pesan serupa ini mungkin terdengar klise. Khususnya, mengenai norma-norma yang perlu dipegang bersama. Namun, justru di situlah kuncinya. Cersei Lannister dalam salah satu episode akhir The Game of Thrones, berkata kepada Eddard: “Dalam percaturan kekuasaan, kau akan benar atau mati. Tidak ada kesepakatan. ”

Demokrasi layak diperjuangkan justru sebab sistem ini membuka kemungkinan untuk kehidupan bersama yang damai, bersama-sama dalam perbedaan, dengan garis pemisah yang jelas tentang benar & salah, fakta dan fiksi, lurus dan tidak adil, dan semacamnya.

Itulah yang menjadi jiwanya setiap asosiasi demokratis. Tanpa itu, kematian demokrasi di tangan kaum demagog ataupun kelompok lainnya, hanya tinggal menunggu waktu. Hal ini, menurut saya, perlu direnungkan bukan hanya sebab Anies Baswedan, melainkan juga kita semua.