Kadrun

ISU-ISU sensitif sesuai kadrun memang layak mendapat penjelasan. Hal ini mengurai agar tak liar dengan sejuta tafsiran. Cakap ini sejatinya hanya akronim kekinian, yang dipelesetkan menjadi candaan secara sedikit makian dan sindiran.

Sebagai akronim, kadrun berunsur asal kadal dan gurun . Maknai kedua bagian itu secara leksikal dan santun. Kadal ialah reptilia yang ditemukan di hutan, padang rumput, tanah, dan kebun. Pun terdapat di Indonesia, Timur Tengah, dan di mana saja, termasuk negara Kamerun. Singkatnya, kadal gurun hidup dan dijumpai sesuai namanya: gurun.

Ternyata bila dimaknai tanpa sensasi, kadal tanah merupakan gabungan kata dengan makna denotasi: bermakna sepantasnya tanpa menyayat hati.

Akan tetapi, karena kadrun dimaksudkan sindiran, kata ini menjauh dan menyulut tanggapan karena acuan dengan memojokkan. Kadrun menjadi referensi keturunan Arab dan cenderung sektarian. Kendati menjadi label intoleran, pro-NKRI bersyariah, bahkan disebut prokek hilafahan. Peristiwa inilah yang menjadi bola liar tanpa kesudahan. Setop!

Sebagai pengetahuan, gurun tidak semata mengarah ke wilayah Timur Tengah seperti Arab Saudi. Akan tetapi, gurun juga terdapat di Amerika, yakni Mojave, Tanah Sahara di Afrika, gurun tebal telinga di Antartika, bahkan di Tiongkok, ada Gurun Gobi.

Artinya, istilah kadal gurun atau sahabat gurun sebenarnya tidak relevan jika menggambarkan orang yang kearab-araban atau Islam batas keras. Namun, kata itu mampu juga diartikan sebagai orang Amerika, Tiongkok, dan orang Eskimo.

Populernya prawacana kadrun talitemali dengan kepentingan. Introduksi itu dimanfaatkan dengan tujuan stigmatisasi dalam perpolitikan. Setiap ada pencalegan dan pemilihan, kadrun menjadi sebutan pemisah dua kubu berseberangan. Langka, bukan?

Masih santer di ingatan tersedia kata cebong dan kampret. Ke-2 kata ini serupa kadrun di dalam konteks kepentingan. Semuanya ditujukan buat memojokkan agar satu pihak mengambil kemenangan.

Akan tetapi, mengapa nama binatang yang dikorbankan? Mengapa kadal yang dinistakan, mengapa kampret yang salahkan, dan mengapa cebong yang ditertawakan?

Gerangan, secara bahasa, kata yang menjelma dalam segala ujaran sangat lengket dengan keadaan. Masyarakat bahasa biar merespons fenemona sekitar dengan introduksi yang dilabelkan. Terkadang intensitas keterucapan kata itu pun berlebihan. Sensasi untuk membela diri seakan lepas. Bebas. Tenaga pun terkuras minus batas hanya sekadar untuk membalas dan mengulas.

Dalam perpolitikan, kata-kata selarik cebong, kampret, dan kadal sering diselewengankan guna memodifikasi keterpilihan. Ciri buruk sudah tidak dihiraukan. Terkatung-katung.

Meskipun tidak bisa dihentikan, kata-kata tersebut mesti mendapat kejelasan secara kebahasaan. Makna dan rujukan harus sanggup menjadi logika pendeskripsian. Kesantuan petitih harus dimulai dari semua susunan, utamanya yang berpendidikan dan bakir. Para petinggi partai, direksi BUMN, atau siapa pun, menjadi caraka bahasa sopan dalam percakapan. Bukankah ungkapan bahwa kata lebih garang daripada pedang sudah kerap didengungkan. Artinya pula, kata yang diujarkan menjadi ukuran kesantunan.

Terakhir. Kadrun hanyalah akronim dalam denotasi. Kata itu menarik untuk dilirik bila acuannya baik. Akan tetapi, menjadi sensitif bila rangkaian kata itu dihembuskan untuk melabeli. Stigma negatif biar muncul mengiringi. Masihkah ada cara baik lain yang kaumiliki? Tersebut akan lebih berarti!