Jangan Kendur meski Angka Kasus Turun

KENDATI rata-rata kejadian aktif covd-19 di Indonesia tetap menurun, bukan berarti penanganan serta pengawasan menjadi kendur. Hal tersebut ditekankan Presiden Joko Widodo saat memimpin rapat terbatas bersama Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, kemarin.

“Rem dan gas banget diatur. Jangan sampai kendur jadi berisiko memunculkan gelombang kedua. Itu akan membuat kita setback, tertinggal lagi, ” ucapnya.

Presiden tidak mau hasil baik yang telah dicapai saat ini menjadi rusak sebab kurangnya kewaspadaan dan lemahnya penjagaan. Karena itu, langkah-langkah pencegahan terhadap kegiatan-kegiatan yang berpotensi melanggar adat kesehatan harus dilakukan secara kasar.

“Lakukan tindakan pencegahan sedini mungkin, ” kata Jokowi.   Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, per 23 November  rata-rata jumlah kasus rajin di Indonesia tercatat sebesar 12, 78%, jauh lebih rendah daripada rata-rata kasus aktif  dunia dengan mencapai 28, 43%. Demikian selalu dengan angka kematian yang turun menjadi 3, 19%.

Kemarin, kasus nyata covid-19 di Indonesia bertambah sebesar 4. 442 orang dan membuat angka kumulatifnya naik menjadi 502. 110 orang.

Indikator positif lainnya diungkapkan Juru Bicara Satuan Tugas  Penanganan Covid-19 dr Reisa Broto Asmoro. Ia menyampaikan angka rasio perbaikan (recovery rate) kasus positif covid-19 di Indonesia terus meningkat. Pada minggu lalu angkanya berada pada 83, 92% dan kini menjadi lebih dari 84%.

“Angka itu jauh di atas rata-rata kesembuhan dunia yang masih di angka 69, 2%, ” kata Reisa pada Dialog Juru Bicara Pemerintah dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru bertema Tata laksana vaksinasi di Indonesia, kemarin.

Selain itu, sambungnya, lebih dari 3, 5 juta penduduk Nusantara yang diuji PCR (swab) serta rasio positif covid-19 hanya mencapai 14%. “Artinya, lebih banyak kejadian negatif covid-19 daripada yang membangun, ” tambah Reisa.

Gencarkan edukasi

Menurut Reisa, upaya asing yang tengah dilakukan pemerintah untuk menekan penularan covid-19 ialah mewujudkan program vaksin untuk rakyat.

Meskipun vaksin akan datang, ujarnya, masyarakat kudu tetap  disiplin menerapkan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menggembala jarak aman).

Pakar imunisasi Jane Soepardi menambahkan, imunisasi sangat  efektif di dalam mencegah penyakit menular. Sebelum vaksin ditemukan, ia mencontohkan, angka janji akibat penyakit menular seperti tampak, difteri, dan pneumonia sangat tinggi.

Secara lahirnya vaksin, penyakitpenyakit menular kritis itu  hilang. Walaupun masyarakat sering tidak menyadarinya, kata Jane, edukasi penting untuk diberikan.

“Jadi, masyarakat kita harus terusmenerus diberi pengetahuan mengenai penyakit apa saja yang jadi dicegah dengan imunisasi. Jangan sampai nanti lupa lalu menghindari vaksin  sehingga muncul kembali penyakitpenyakit periode, ” beber Jane.

Jane mengatakan vaksin jauh berbeda dengan obat. Vaksin akan  diberikan kepada orang sehat jadi syarat vaksin dibuat sangat selektif. (Ata/H-2)