Humaniora

Info seputar HK Hari Ini 2020 – 2021.

PEMERINTAH bakal melakukan pencarian konten-konten negatif yang diunggah para guru di bermacam-macam media sosial guna menghalangi berkembangnya paham radikal dalam dunia pendidikan.

Tracking   konten medsos guru maupun siswa itu telah dibahas di raker bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ini menyangkut  big data   pendidikan, ” kata Wakil Ketua Komisi X DPR RI Agustina Wilujeng usai  focus group discussion   dengan tema  Sekolah Tempat Menyemai Nilai-Nilai Pancasila serta Penangkal Radikalisme   di The Wujil Resort and Conventions, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (29/4).

Hal tersebut, kata tempat, berkaitan dengan adanya petunjuk guru yang menganut kesimpulan radikal dan bertentangan dengan ideologi Pancasila sehingga dikhawatirkan menyebarkannya kepada pelajar maupun masyarakat.

Tracking   guru serta kegiatan sekolah melalui akun milik guru dan anak ini sudah  trial . Jadi, nanti mau bisa mengetahui guru dan siswa ini aktivitasnya barang apa saja karena  track record   medsosnya bisa dibuka, ” ujar politikus PDI Perjuangan itu.

Menurut dia, salah utama cara sederhana melakukan penyelidikan adalah guru diminta menjelma pengikut akun resmi medsos Kemendikbud sehingga dengan begitu akan lebih mudah pelajaran aktivitas medsosnya, termasuk masa guru menjadi narasumber, oleh karena itu bisa diketahui paparan barang apa saja yang disampaikan.

Persen X DPR RI  memajukan Mendikbud Nadiem Makarim buat memanfaatkan teknologi guna menguatkan pendidikan karakter dan haluan Pancasila karena mendapat informasi adanya guru yang memiliki paham radikal dan intoleran.

Agustina menyampaikan Pancasila kudu diperkuat dan ditanamkan balik sebagai pendidikan karakter pada semua jenjang sekolah.

Terpaut dengan hal itu, tinggi dia, guru menjadi ciri penting  meskipun peran orang tua dan masyarakat juga menjadi kunci keberhasilannya agar pelajar memahami nilai-nilai Pancasila dan menerapkan dalam kesibukan sehari-hari.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jateng H. Tafsir mengatakan bahwa pendidikan Pancasila harus eksplisit ada di dalam kurikulum pendidikan dan kudu disebut langsung.

“Generasi ulung sebuah negara adalah generasi pertama. Pancasila adalah watak generasi pertama membangun kampung ini. Maka, istilah Pancasila jangan diubah, biar semua generasi tahu. Tanamkan nilai-nilainya pada generasi selanjutnya, ” kata H. Tafsir.

Ada sebagai narasumber lainnya di dalam FGD itu adalah Sekretaris Ditjen PAUD  Pendidikan Pokok dan Pendidikan Menengah Kemendikbud Sutanto, Bupati Semarang Ngesti Nugraha, dan Ketua Yayasan Mahardhika Satria Nugraha Valentina Dwi Kuntani. (OL-8)