Bulevar Kesejahteraan di Perbukitan Petahunan

DI jalanan yang menanjak, Casam, 46, sesekali mengusap keringatnya yang mengucur deras. Ia mendatangkan hasil panenan dari sawah dengan berada di lereng perbukitan Daerah Petahunan, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah menuju ke rumah lengah seorang penduduk. Dia memang menjadi buruh angkut panenan padi. Pokok, dari sawah yang berada dalam perbukitan tidak bisa diakses dengan sepeda atau kendaraan.

“Sudah puluhan tarikh, saya menjadi tukang angkut panenan padi, karena sawahnya berada pada lereng perbukitan. Ongkos angkutnya Rp20 ribu hingga Rp25 ribu bagi karung. Satu karung, beratnya 40 kg. Padahal biasanya, yang pengetaman tidak hanya satu karung sekadar, sehingga memang membutuhkan ongkos tambahan, ” ungkap Casam yang ditemui pada Minggu (2/8).

Tak hanya Casam, Wasdir, 50, juga harus memanggul hasil panenan, karena tidak tersedia pilihan lainnya. Dengan jalan setapak yang naik turun perbukitan, tak mungkin dilalui dengan sepeda ataupun kendaraan bermotor.  

“Biasanya hanya ditempuh dengan jalan kaki. Dari ladang sampai tujuan, setidaknya memakan masa sampai 30 menit. Itu kalau dengan beban padi hasil panen dengan bobot sekitar 40 kg, ” jelas dia.

Sebagai desa yang berada di perbukitan, Petahunan pula memiliki panorama yang indah. Bisa melihat sawah membentang luas daripada salah satu tempat di lereng perbukitan. Bahkan, desa setempat memiliki wisata yang indah yakni Curug Nangga. Curug berarti air terjun, sedangkan Nangga bisa diartikan nikah atau bertingkat. Sebab, Curuh Nangga memiliki tujuh tingkat air terjun, sehingga telah dikelola menjadi salah satu destinasi wisata.

Sayangnya, orang dengan ke Curug Nangga harus melewati jalan setapak sekitar 1 kilometer (km). Untuk berangkatnya tidak terlalu terasa, namun pulangnya dipastikan berat, karena jalannya menanjak.  

“Saya pernah sekali ke Curug Nangga, tetapi memang berat, karena jarus terangkat turun jika jalan kaki. Sebab, bagi orang setua saya bener-bener membutuhkan perjuangan untuk sampai ke Curuh Nangga. Indah memang cairan terjunnya, ” kata Sasmita, 57.

Apa yang disampaikan oleh Casam, Wadir dan Sasmita telah menjadi cerita lalu. Narasi itu sudah berakhir sejak pekan lalu. Hal tersebut dijawab dengan program Tentara Nasional Indonesia Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Reguler ke-108 Kodim 0701 Banyumas dengan merampungkan jalan yang menembus perbukitan sepanjang 1, 8 km dengan lebar 3, 75 meter. Jalannya beton, sehingga dapat dilewati kendaraan. Selama satu kamar, para prajurit TNI bahu membahu manunggal bersama rakyat membuat jalan 
yang sangat vital Petahunan.

Dorong Kesejahteraan

Dengan adanya hidup beton yang telah rampung dibangun, masyarakat mulai merasakan dampaknya.  

“Bagi saya, saat sekarang sudah sanggup membawa panen kayu albasia secara jalan yang enak. Kalau zaman untuk sampai ke rumah, memerlukan waktu hingga 30 menit seluruhnya jalan. Tetapi saat sekarang paling hanya 10 menit saja. Buat membawa hasil panen padi, saat ini bisa langsung dengan besar tidak dipanggul seperti dulu. Jelas tersebut sangat menghemat pengeluaran petani. Jika empat kali angkut, maka ebutuhannya Rp100 ribu, namun sekarang paling hanya BBM satu liter selalu, ” ujar Ratam, 56, warga setempat.

Kepala Dusun I Desa Petahunan Warsito mengatakan jalan telah dibangun memungkinan Curug Nangga lebih lurus diakses.  

“Kalau sebelumnya, untuk menyentuh Curug Nangga harus jalan menguasai dengan jarak sekitar 1 km. Tetapi saat sekarang bisa memakai kendaraan, meski agak jauh kecil yakni 1, 8 km. Namun, dengan jalan baru ini terang lebih cepat sampai. Kalau sebelumnya, Curug Nangga identik dengan wisatawan muda, karena harus berjalan, kini lebih terbuka lagi. Mereka dengan sudah tua atau anak-anak mampu sampai ke sini lebih mudah. Dan ternyata, para pesepeda selalu sampai ke sini, ” ungkapnya.

Era ditemui di Curug Nangga, Jumino, 56, warga Kelurahan Tanjung, Purwokerto Selatan dengan sepedanya sampai ke Curug Nangga.  

“Dulu, saya sudah mendengar indahnya Curug Nangga. Namun baru sekarang bisa sanmpai, bertambah asyik lagi, saya naik roda. Saya yakin dengan jalan pertama ini, maka akan semakin menjadi magnet bagi warga yang ingin berwisata di Curug Nangga, ” ujar Jumino.

Kepala Desa Petahunan Rohmat Fadli mengatakan bahwa dampak membangun telah dirasakan warga, salah satunya adalah efisiensi pengangkutan hasil bumi. Petani, misalnya, tidak perlu teristimewa mengeluarkan ongkos untuk pengangkutan hasil panen baik padi atau hasil bumi lainnya.  

“Dengan adanya ustaz baru ini, maka kami meminta jumlah wisatawan yang datang bakal semakin bertambah, ” terang Rohmat Fadli.

Rohmat menambahkan pengunjung akhir tahun baru sekitar 200 orang. Selama setahun pada 2019 lalu, total pendapatan yang masuk mencapai Rp30 juta.  

“Mudah-mudahan ke depan, jumlah pengunjung bakal bertambah dan perolehan akan meningkat. Dengan semakin meningkatnya jumlah pengunjung, maka akan berefek domino bagi warga sehingga bakal mendongkrak pendapatan mereka. Inilah bahan utamanya, peningkatan kesejahteraan dan mengentaskan kemiskinan bagi warga, ” kata Kades.

Komandan Satgas TMMD Kodim 0701 Banyumas Letkol Inf Candra mengucapkan bahwa program TMMD di Petahunan baik fisik dan non wujud rampung secara tuntas. Ia berniat agar masyarakat dapat memelihara dan mengoptimalkan pembangunan fisik dan non fisik yang telah dirampungkan.  

“Nanti, akan dipantau, sehingga hasilnya bisa digunakan untuk meningkatkan perekonomian di Desa Petahunan, ” kata Letkol Inf Candra.

baca juga:   Dandim Klaten Tinjau Kegiatan TMMD Sengkuyung II

Pada TMMD Sengkuyung yang dilaksanakan di Desa Petahunan tersebut menelan anggaran   senilai Rp1, 8 miliar yang berasal dari TNI, pemkab, pemprov dan dana desa. Bupati Banyumas menyambut senang.  

“Kami sangat berterima afeksi, karena dengan adanya TMMD sudah mampu membuka akses jalan. Manfaatnya sangat besar, saya berterima beri kepada TNI karena telah memproduksi terobosan, ” ujar Bupati Banyumas Achmad Husein.

Kini, warga Petahunan berangkat merenda harapan dengan mengembangkan daya wisata yang sungguh indah. Tidak hanya Curug Nangga, tetapi juga Watu Kumpul yang menjadi wadah untuk paralayang.   Sebuah jalan untuk kesejahteraan bersama. (OL-3)